Lubang-lubang Waktu

"Kita tak dapat menghentikan kemajuan" -Pria bertopi kuning

Pernahkah kamu merasakan ini? Terperangkap dalam memorimu sendiri. Terjebak di ujung lubang waktu, mengintip masa lalu dan tak ingin bergerak maju. Perasaan familiar yang menyesakkan tenggorokan. Perasaan kalah terhadap hukum alam. Mengaisi waktu yang tak lagi dapat kau miliki. Mendekap kenangan yang takut kau hilangkan. Perasaan terperangah dan kalah, saat kau menyadari ada lubang waktu sebesar ini yang telah kau lampaui.

Lubang waktu yang kau sadari saat menemukan adikmu tidak kecil lagi.
Lubang waktu yang kau sadari saat memerhatikan, ia telah tumbuh sebegitu tinggi.
Lubang waktu yang kau sadari saat mendapati, uban ayah melebihi sejumlah jari.
Lubang waktu yang kau temui, saat mengamati pipi ibumu tak kencang lagi.
Betapa besar lubang waktu yang kulompati tanpa hati. Betapa besar lubang yang harus kutambal, jauh besar dibanding lubang gigi. Betapa besar.

Dan kamu mau tau lubang apa lagi?
Lubang yang kau dapati saat menemukan KTP tersimpan di dompetmu dengan rapi. Oh, betapa aku membenci KTP. Ia mengabarkan penuaanku kemana-kemana. Pelakat berujungnya masa muda, selamat datang orang tua. Aku membenci KTP dan menolak memilikinya. Tapi waktu tak mau ditunda, ia menggerus masa muda. Membawakan keriput-keriput jelek di sekitar mata. Mengauskan kotak tawa dan menggetirkannya. Menciutkan angan-angan dan memberatkan harapan. Menyempitkan kesempatan dan melebarkan penyesalan. Menakutkan.
Tidakkah kamu melihat lubang besar itu?
                                                                     
Dan satu lagi, lubang waktu yang kau temukan saat kau duduk sendirian dan menulis soal lubang-lubang waktu ini. Menyadari lubang-lubang besar yang telah kau lewati dan merasa ngeri. Menyesal dan takut tua. Membenci diri sendiri karena memikirkan hal-hal ini.

0 komentar:



Posting Komentar