Segumpal Rindu

Menemukan sampah lama dan ya, aku masih rindu.

...

Ada begitu banyak masalah, ada begitu banyak macam perasaan. Mungkin terlalu banyak yang ingin kuhapal, hingga yang sederhana seperti ini saja, aku tak mengerti. Ini, rindu.
Seperti setetes kerinduan yang sudah kutakutkan akan muncul dipermukaan, rasa ini telah berkembang begitu mengerikan. Memuai dengan amat cepat hingga tak ada lagi tempat. Meluap, membludak, membanjir, dan kubiarkan waktuku tenggelam di dalamnya.
Seharusnya kau tidak tau, kau tidak boleh tau, karena ini membuatku malu. Kenyataan bahwa waktuku kuhabiskan untuk menungguimu sungguh menyiksaku. Aku tidak menunggumu datang. Aku tidak menunggumu muncul sambil tersenyum lalu memelukku. Aku hanya menunggu segumpal kecil waktu yang kau gunakan untuk mengirim sedikit keperhatiananmu padaku. Menunggunya datang mengetuk layar handphoneku, menunggu beberapa suku kata yang sering kali tidak memuaskanku.
Hanya beberapa detik. Beberapa detik yang berharga untukku, beberapa detik yang kutunggu. Namun dengan polosnya, kuhabiskan beberapa jam waktuku untuk menunggu beberapa detik itu. Ini cinta, atau kebodohan wanita?
Pada suatu titik, aku menjadi egois. Mencoba menyingkirkan hal-hal yang berani menghalangi kerinduanku terhadapmu. Mencoba membekap mereka, mengikatnya dengan rafia, dan kusembunyikan dalam karung tua. Agar kau yang-namanya-tak-ingin-kusebut tidak bisa melihatnya. Melupakan segala keasyikan dan keharusanmu yang sudah kubungkam itu, lalu kembali ke dalam ruang waktu yang sama denganku, untuk sekedar menyapa dan berbasa-basi kepadaku.

Ini tentang kerinduan yang coba kuredam dengan penuh dendam. Seperti jauhnya dimensi yang kini mengisi setiap mili di antara aku dan segumpal hatimu, jarak membuatku putus asa dan merindu.

-tahun ke dua

Lubang-lubang Waktu

"Kita tak dapat menghentikan kemajuan" -Pria bertopi kuning

Pernahkah kamu merasakan ini? Terperangkap dalam memorimu sendiri. Terjebak di ujung lubang waktu, mengintip masa lalu dan tak ingin bergerak maju. Perasaan familiar yang menyesakkan tenggorokan. Perasaan kalah terhadap hukum alam. Mengaisi waktu yang tak lagi dapat kau miliki. Mendekap kenangan yang takut kau hilangkan. Perasaan terperangah dan kalah, saat kau menyadari ada lubang waktu sebesar ini yang telah kau lampaui.

Lubang waktu yang kau sadari saat menemukan adikmu tidak kecil lagi.
Lubang waktu yang kau sadari saat memerhatikan, ia telah tumbuh sebegitu tinggi.
Lubang waktu yang kau sadari saat mendapati, uban ayah melebihi sejumlah jari.
Lubang waktu yang kau temui, saat mengamati pipi ibumu tak kencang lagi.
Betapa besar lubang waktu yang kulompati tanpa hati. Betapa besar lubang yang harus kutambal, jauh besar dibanding lubang gigi. Betapa besar.

Dan kamu mau tau lubang apa lagi?
Lubang yang kau dapati saat menemukan KTP tersimpan di dompetmu dengan rapi. Oh, betapa aku membenci KTP. Ia mengabarkan penuaanku kemana-kemana. Pelakat berujungnya masa muda, selamat datang orang tua. Aku membenci KTP dan menolak memilikinya. Tapi waktu tak mau ditunda, ia menggerus masa muda. Membawakan keriput-keriput jelek di sekitar mata. Mengauskan kotak tawa dan menggetirkannya. Menciutkan angan-angan dan memberatkan harapan. Menyempitkan kesempatan dan melebarkan penyesalan. Menakutkan.
Tidakkah kamu melihat lubang besar itu?
                                                                     
Dan satu lagi, lubang waktu yang kau temukan saat kau duduk sendirian dan menulis soal lubang-lubang waktu ini. Menyadari lubang-lubang besar yang telah kau lewati dan merasa ngeri. Menyesal dan takut tua. Membenci diri sendiri karena memikirkan hal-hal ini.

Kepadamu, Rumah

Karena jika kamu pergi, kemana aku harus pulang di ujung hari?




"Cause they say home is where your heart is set in stone. Is where you go when you're alone. Is where you go to rest your bones. It's not just where you lay your head. It's not just where you make your bed. As long as we're together does it matter where we go? Home." -Gabrielle Aplin

Betapa Aku Membenci Rokokmu

Aku membenci rokok seperti aku membenci jarak. Mereka menjauhkanmu dariku.

...

Aku membenci rokok karena mereka berasap. Buram dan bau.
Aku membenci rokok karena mereka menyesakkan dada dan memburamkan mata. Menyesakkan akal sehat dan memburamkan pikiran.
Aku membenci rokok karena mereka membunuh teman-temanku. Diam-diam dan menyenangkan, tanpa perlawanan. Membakar paru-paru mereka sendiri. Meminum racun dengan rutin setiap hari.
Aku membenci rokok karena ia menumpulkan perasaan. Teman-temanku mengajakku mati bersama rokok mereka. Menebarkan kematian dimana-mana. Mereka bangga menjadi pembunuh. Mereka membunuhku di sela tawa mereka. Mereka membunuhku bersama canda. Mereka tak lagi punya hati. Mereka membunuhku setiap hari.
Aku membenci rokok karena membuat teman-temanku menjadi jelek. Ia membuat mereka jelek dan mati.
Tak usah banyak alasan. Bahkan rasa bersalah kalian tidak akan membantu. Aku hanya ingin kalian tetap hidup bersamaku.
Aku membenci rokok dengan seluruh hidupku yang masih disisakan olehnya.
Aku membenci rokok dengan seluruh urat nadiku yang diracuni olehnya.

...

Dan untukmu, akan tiba hari dimana kau harus memilih, aku atau asapmu.

Memacari Waktu

Selalu begitu, kata-kata mengaburkan prasangka terhadap waktu. Seolah waktu bisa bengkok dan pertemuan ini tak akan ada habisnya.

...
Apalah yang kucintai kalau bukan berkata-berkata denganmu. Membaginya denganmu hanya menghabis-habiskan waktu, dengan cara favoritku. Karena apalagi yang kupacari kalau bukan waktu dan kata-katamu.
Karena bersama kata-kata ada ruang yang terisi. Karena oleh kata-kata disambungkan kedua hati. Karena hanya kata-katamu yang bisa kubawa lari ke sana ke mari.

Dan apalah yang bisa kutunggu selain waktumu yang akan kau berikan padaku. Karena apalah yang lebih indah dari menyia-nyiakan waktumu untukku. Sungguh, soal waktu mewaktu ini menyanjungku.
Membagi waktu dan menyantapnya berdua denganmu adalah alasan kenapa ikatan ini sulit ditinggalkan.Berbagi waktu denganmu rasanya lezat, apalagi diselingi lelehan tawa cokelat yang hangat. Hmm...membayangkannya saja nikmat.

Dan waktu dan kata-katamu, salahkan mereka kenapa begitu adiktif bagiku.

Itu Saja

Ini adalah saatku. Waktu yang membeku yang hanya punyaku. Seperti biasa, ada kamu di dalamnya.
Hanya diam dan memperhatikanmu dari sisi sini. Diam diam merekam tiap senti yang bisa kuteliti. Dengan rakus memasukkannya ke dalam memori, agar perasaan ini tidak dicuri.

Saat aku cukup diam untuk memerhatikan garis rahangnya yang tirus. Hidungnya, yang masih jadi hidung favoritku. Kulitnya yang coklat. Rambutnya yang ikal. Tangkai kacamatanya yang hitam. Kumisnya yang dicukur dan baru mulai panjang, jenggotnya yang jarang.
Kemudian kalimat yang terpikirkan hanya, "aku sayang orang ini."
Dan semua rasanya cukup. Tidak lebih apalagi kurang. Semoga waktu berhenti di sini karena rasanya sungguh murni. Karena 5 atau 8 detik lagi akan datang kalimat-kalimat pelengkapnya. Komitmen, kepercayaan, tuntutan, pengharapan............akan jadi daftar panjang untuk dituliskan.

Dan hanya soal itu saja, cukup itu saja. Sebelum tulisan ini berubah menjadi cerita cinta yang tidak lagi mesra.

"Aku hanya ingin mencintaimu secara sederhana, tulus, dan tanpa syarat."-tahun ke dua