Sangkar Emas

Bukan, bukan sangkar emas. Aku hanya ingin bersarang di tempat aku ingin pulang. Cukup dari sini,menyaksikan sangkar emas bernyanyi riang.

Para burung bernyayi, merdu sekali. Berdiri bersisian, berekatan. Melengkapi satu demi satu nyanyian, berbagi nada. Bukankah itu indah?
Di sini burung pengicau. Senang berkicau-kicau dengan kacau. Si burung ingin ikut bernyanyi. Si burung terbang mendekati.

Siapa sangka pintu sangkarnya terbuka lebar? Siapa sangka  burung-burung penyanyi begitu lega membuka hati? Sangkarnya hangat, sayangnya agak erat. Cukup bernyanyi dengan seri, sedikit menari, dan meletakkan hati di sini, bukankah sangkar ini nyaman untuk pulang tiap sore hari?
Tapi dasar burung pengicau tak tahu malu. Memutuskan sangkar ini bukan untuk aku. Terbang, keluar, aku bukan burung sangkar.
Burung penyanyi yang baik hati, membujuk aku tinggal di sini. Bagaimanalah ini?
Burung Pegar dari luar pagar, hanya menggeleng dan bertanya, kenapa harus pergi? Cukuplah di sana, di dalam sangkar. Bernyanyi sajalah. Duh, bagaimanalah ini?
Tapi dasar burung pengicau tak tahu malu. Bersikeras pergi, pergi sendiri. Keluar sangkar dan terbang tidak tinggi.
Tapi di sana aku berkicau, berkicau dengan kacau. Dan memang hanya kekacauan yang aku butuhkan. Aku bukan burung sangkar.
Burung bersangkar masih bernyanyi. Megah sekali. Tapi cukup bagiku di sini, di luar. Bukan, bukan sangkar emas. Aku hanya ingin bersarang di tempat aku ingin pulang. Cukup dari sini,menyaksikan sangkar emas bernyanyi riang.




Selamat atas kesuksesan konsernya, VP!

Pulang?

Sore itu aku dihajar kata-kata. Ditohok tepat di pusat rasa.

Betapa kata-kata mempermainkanmu. Memburamkan
pandangan dan membedah isi hati. Mungkin ini soal diksi.

Hampir 4 bulan, baru 4 bulan aku, aku tinggal di Jogja. Jadi mahasiswa, ini kota tempat masa depan ditata. Sekedar itu.
Siapa sangka keluarga baru tumbuh di sini. Satu-satu jadi kakak adik baru. Tempat bersenang dan bersedih, di mana lagi kalau bukan di sini. Tak terduga.

Kemarin dulu aku berangkat ke kampung halaman. Seminggu di sana lalu pulang ke Jogja.
Itulah masalahnya. Mengejutkan diriku sendiri, sejak kapan rumah ada di sini? Sejak kapan pulang artinya ke sini?
Katanya, pulang adalah kemana hatimu berada. Di sinikah?
Aku masih positif, hatiku, sebagian besarnya, masih di sana. Alasan aku ada dan kenapa aku harus terus ada, ada di sana.
Lalu kenapa pulang ada di sini? Mengusik hati.
Mungkin pulangku punya definisi sendiri?
Mungkin pulangku begitu dangkal diberi arti?
Mungkin pulangku hanya soal kuantitas waktu?
Entah kenapa begitu mengganggu pemahamanku.
Aku masih anak ibuku.

Sampah Terbaru

Sungguh menyenangkan menemukan kotak lama berdebu yang nyaris bau ini. Seperti yang sudah kujanjikan, isinya memang hanya kertas remas yang punya bekas.
Ada kesukaan yang timbul tenggelam diseret waktu. Tapi eksistensinya nyata dan ternyata terus ada. Kesukaanku pada kata-kata.
Kata-kata tidak menuntutku untuk duduk lebih lama, atau memeras lebih banyak rasa. Kata-kata menerimaku sebagaimana kata-kata membentuk diriku. Yang dulu maupun yang baru.
Dan ini dia pelakatnya, penyambutanku terhadap kata-kata. Selamat datang! Semoga kali ini betah dan berkenalan terhadap konsistensi. Karena kata-kata memang suka datang sendiri tidak punya jadwal pasti.
Selamat datang kembali untuk diriku sendiri! Berjanji akan lebih banyak lagi membuang kertas di sini.