Kamu tau apa yang paling bikin aku sedih? Kata-katamu.
Bahwa jika aku ingin pergi, kau tidak akan menahanku di sini. Pergi saja pergi.
Apakah ini semacam gertakan agar aku tetap tinggal?
Atau apakah ini peringatan bahwa tidak akan ada jalan pulang?
Sedih sekali. Ini membuatku sedih sekali.
Padahal ini bukan permainan gertak sambal.
Padahal ini adalah pertanyaan jebakan.
Padahal aku sedang mengukur rasa sayang.
Padahal aku hanya perempuan, hanya ingin dipertahankan.
Kalau ternyata aku tidak cukup pantas, kenapa aku harus bertahan?
Sedih sekali. Kamu sudah menjawab dan terlanjur kusimpan dalam hati. Ini membuatku sedih sekali.
Kepadamu cinta, seharusnya aku tidak bertanya.
Kepadamu Cinta Dengan Tanda Tanya
Segumpal Rindu
Lubang-lubang Waktu
"Kita tak dapat menghentikan kemajuan" -Pria bertopi kuning
Pernahkah kamu merasakan ini? Terperangkap dalam memorimu sendiri. Terjebak di ujung lubang waktu, mengintip masa lalu dan tak ingin bergerak maju. Perasaan familiar yang menyesakkan tenggorokan. Perasaan kalah terhadap hukum alam. Mengaisi waktu yang tak lagi dapat kau miliki. Mendekap kenangan yang takut kau hilangkan. Perasaan terperangah dan kalah, saat kau menyadari ada lubang waktu sebesar ini yang telah kau lampaui.
Lubang waktu yang kau sadari saat menemukan adikmu tidak kecil lagi.
Lubang waktu yang kau sadari saat memerhatikan, ia telah tumbuh sebegitu tinggi.
Lubang waktu yang kau sadari saat mendapati, uban ayah melebihi sejumlah jari.
Lubang waktu yang kau temui, saat mengamati pipi ibumu tak kencang lagi.
Betapa besar lubang waktu yang kulompati tanpa hati. Betapa besar lubang yang harus kutambal, jauh besar dibanding lubang gigi. Betapa besar.
Dan kamu mau tau lubang apa lagi?
Lubang yang kau dapati saat menemukan KTP tersimpan di dompetmu dengan rapi. Oh, betapa aku membenci KTP. Ia mengabarkan penuaanku kemana-kemana. Pelakat berujungnya masa muda, selamat datang orang tua. Aku membenci KTP dan menolak memilikinya. Tapi waktu tak mau ditunda, ia menggerus masa muda. Membawakan keriput-keriput jelek di sekitar mata. Mengauskan kotak tawa dan menggetirkannya. Menciutkan angan-angan dan memberatkan harapan. Menyempitkan kesempatan dan melebarkan penyesalan. Menakutkan.
Tidakkah kamu melihat lubang besar itu?
Dan satu lagi, lubang waktu yang kau temukan saat kau duduk sendirian dan menulis soal lubang-lubang waktu ini. Menyadari lubang-lubang besar yang telah kau lewati dan merasa ngeri. Menyesal dan takut tua. Membenci diri sendiri karena memikirkan hal-hal ini.
Kepadamu, Rumah
Karena jika kamu pergi, kemana aku harus pulang di ujung hari?
Betapa Aku Membenci Rokokmu
Aku membenci rokok seperti aku membenci jarak. Mereka menjauhkanmu dariku.
...
Aku membenci rokok karena mereka berasap. Buram dan bau.
Aku membenci rokok karena mereka menyesakkan dada dan memburamkan mata. Menyesakkan akal sehat dan memburamkan pikiran.
Aku membenci rokok karena mereka membunuh teman-temanku. Diam-diam dan menyenangkan, tanpa perlawanan. Membakar paru-paru mereka sendiri. Meminum racun dengan rutin setiap hari.
Aku membenci rokok karena ia menumpulkan perasaan. Teman-temanku mengajakku mati bersama rokok mereka. Menebarkan kematian dimana-mana. Mereka bangga menjadi pembunuh. Mereka membunuhku di sela tawa mereka. Mereka membunuhku bersama canda. Mereka tak lagi punya hati. Mereka membunuhku setiap hari.
Aku membenci rokok karena membuat teman-temanku menjadi jelek. Ia membuat mereka jelek dan mati.
Tak usah banyak alasan. Bahkan rasa bersalah kalian tidak akan membantu. Aku hanya ingin kalian tetap hidup bersamaku.
Aku membenci rokok dengan seluruh hidupku yang masih disisakan olehnya.
Aku membenci rokok dengan seluruh urat nadiku yang diracuni olehnya.
...
Dan untukmu, akan tiba hari dimana kau harus memilih, aku atau asapmu.
Memacari Waktu
Selalu begitu, kata-kata mengaburkan prasangka terhadap waktu. Seolah waktu bisa bengkok dan pertemuan ini tak akan ada habisnya.
Dan apalah yang bisa kutunggu selain waktumu yang akan kau berikan padaku. Karena apalah yang lebih indah dari menyia-nyiakan waktumu untukku. Sungguh, soal waktu mewaktu ini menyanjungku.
Membagi waktu dan menyantapnya berdua denganmu adalah alasan kenapa ikatan ini sulit ditinggalkan.Berbagi waktu denganmu rasanya lezat, apalagi diselingi lelehan tawa cokelat yang hangat. Hmm...membayangkannya saja nikmat.
Dan waktu dan kata-katamu, salahkan mereka kenapa begitu adiktif bagiku.
Itu Saja
Ini adalah saatku. Waktu yang membeku yang hanya punyaku. Seperti biasa, ada kamu di dalamnya.
Hanya diam dan memperhatikanmu dari sisi sini. Diam diam merekam tiap senti yang bisa kuteliti. Dengan rakus memasukkannya ke dalam memori, agar perasaan ini tidak dicuri.
Saat aku cukup diam untuk memerhatikan garis rahangnya yang tirus. Hidungnya, yang masih jadi hidung favoritku. Kulitnya yang coklat. Rambutnya yang ikal. Tangkai kacamatanya yang hitam. Kumisnya yang dicukur dan baru mulai panjang, jenggotnya yang jarang.
Kemudian kalimat yang terpikirkan hanya, "aku sayang orang ini."
Dan semua rasanya cukup. Tidak lebih apalagi kurang. Semoga waktu berhenti di sini karena rasanya sungguh murni. Karena 5 atau 8 detik lagi akan datang kalimat-kalimat pelengkapnya. Komitmen, kepercayaan, tuntutan, pengharapan............akan jadi daftar panjang untuk dituliskan.
Dan hanya soal itu saja, cukup itu saja. Sebelum tulisan ini berubah menjadi cerita cinta yang tidak lagi mesra.
"Aku hanya ingin mencintaimu secara sederhana, tulus, dan tanpa syarat."-tahun ke dua





