Sangkar Emas

Bukan, bukan sangkar emas. Aku hanya ingin bersarang di tempat aku ingin pulang. Cukup dari sini,menyaksikan sangkar emas bernyanyi riang.

Para burung bernyayi, merdu sekali. Berdiri bersisian, berekatan. Melengkapi satu demi satu nyanyian, berbagi nada. Bukankah itu indah?
Di sini burung pengicau. Senang berkicau-kicau dengan kacau. Si burung ingin ikut bernyanyi. Si burung terbang mendekati.

Siapa sangka pintu sangkarnya terbuka lebar? Siapa sangka  burung-burung penyanyi begitu lega membuka hati? Sangkarnya hangat, sayangnya agak erat. Cukup bernyanyi dengan seri, sedikit menari, dan meletakkan hati di sini, bukankah sangkar ini nyaman untuk pulang tiap sore hari?
Tapi dasar burung pengicau tak tahu malu. Memutuskan sangkar ini bukan untuk aku. Terbang, keluar, aku bukan burung sangkar.
Burung penyanyi yang baik hati, membujuk aku tinggal di sini. Bagaimanalah ini?
Burung Pegar dari luar pagar, hanya menggeleng dan bertanya, kenapa harus pergi? Cukuplah di sana, di dalam sangkar. Bernyanyi sajalah. Duh, bagaimanalah ini?
Tapi dasar burung pengicau tak tahu malu. Bersikeras pergi, pergi sendiri. Keluar sangkar dan terbang tidak tinggi.
Tapi di sana aku berkicau, berkicau dengan kacau. Dan memang hanya kekacauan yang aku butuhkan. Aku bukan burung sangkar.
Burung bersangkar masih bernyanyi. Megah sekali. Tapi cukup bagiku di sini, di luar. Bukan, bukan sangkar emas. Aku hanya ingin bersarang di tempat aku ingin pulang. Cukup dari sini,menyaksikan sangkar emas bernyanyi riang.




Selamat atas kesuksesan konsernya, VP!

0 komentar:



Posting Komentar